Ditengah bergulirnya Otonomi Khusus Di Papua
Triliunan kertas melayang layang di atas alam
Papua
Betapa senangnya saudara yang berdasi ketika
melihatnya
Untuk menikmati dan mengenangnya.
Kala uang itu mengarungi diudara ke seluruh
pelosok Papua
Namun sangat disayangkan uang tak pernah jatuh
di pelosok Papua
Tetapi jatuh di pundak saudara yang berdasi
Sialnya nasib mama pedagang Papua
Oh mama pedagang Papua………………….!
Diantara kota
megapolitan
Diantara gedung yang bermega megahan
Tak terlihat seorang pejalan kaki
Tak terlihat pula pekerja kebun
Kendatipun demikian, engkau mengukir sejarah
hidupmu dengan penuh onak dan duri
Keringat pun seiring dengan air matamu berderai
membasahi wajah serta alam Papua
Kala hari hari engkau menada terik matahari di
Trotoar emperan jalan Utama
Dimana engkau terlihat duduk beratapkan langit
biru dan beralaskan sehelai karton
Aku merasa sedih ketika aku melihatmu:
Menghirup asap mobil
Menghirup debu tanah
Rintik rintik hujan membasahimu
Terik matahari mengenaimu
Tiada seorang berdasi yang datang menghampirimu
Yang bisa hanyalah sebuah kiriman permen gula
gula relaxa dari gedung putih
Dengan catatan dalam kiriman Habis manis sepah
dibuang
Biarlah alam Papua menyaksikan semuanya ini
Dimana saudara berdasi berdansa diatas tetesan
air mata ibu
Kala itulah ku ingin bicara
Kala itulah ku ingin menarikan pena diatas
kertas putih
Kala itulah ku ingin ungkapkan memoria
Passionis
Kala itulah ku ingin ungkapkan sejarah Papua.


0 komentar:
Posting Komentar